Selasa, 06 Agustus 2013

Catatan Harian#2 :: Dreaming? Imposible for Me, Maybe (Blessing in Disguise)

Yang nulis Unknown di 8/06/2013 10:45:00 PM 3 komentar
Apakah kita berbicara tentang mimpi? Banyak orang yang berkata bahwa hidup, kesuksesan dan keberhasilan itu berawal dari mimpi. Semua orang pun membangun mimpi-mimpi mereka setinggi langit. Namun, tidak denganku. Suatu kenyataan bahwa aku tidak mempunyai sebuah mimpi [ow ow :o]. Mungkin karena aku sudah “trauma” untuk bermimpi. Trauma? What happened? Apa yang terjadi? [sok penuh tanda tanya :P]

Taked from Google Image

Past Moment
Dulu [lagak serius mengawang masa lalu -_-], aku membangun batu-batu mimpi yang tinggi dengan kokohnya. Setiap hari aku terus membangun dan memperkokoh. Aku tidak hanya bermimpi dalam tidur maupun dalam lamun. Aku, seperti kebanyakan orang sukses lakukan, terus berusaha dengan giatnya hingga prestasi terus kutoreh sepanjang waktu.

Taked from Google Image
Dan akhirnya, tibalah aku menerima hasil, ketika peluang untuk mewujudkan mimpi telah di genggamanku. Bayangan indah akan mimpi-mimpiku yang hendak menjadi nyata telah menari-nari di benakku. Hingga suatu ketika saat mimpi yang bercahaya itu hendak kugenggam ...

Taked from Google Image
Aku meminta izin dan restu kepada orang tua untuk meraih apa yang kutunggu selama ini. Dan, sungguh tak dinyana mereka tidak mengizinkanku untuk benar-benar memiliki mimpi itu karena mengharuskanku mengelana jauh. Suatu kenyataan pahit yang ku rasakan kala itu bahkan hingga sekarang, mungkin. :( :'(

Sampai saat inipun aku seringkali bertanya dalam lamun tentang apa, mengapa dan bagaimana mungkin orang tuaku tidak mengizinkanku. Berbagai alasan yang mereka tuturkan memang sangat masuk akal. Aku sebagai seorang anak juga mengerti betul bahwa setiap orang tua berharap kebaikan pada anaknya. Apalagi kedua orang tuaku bukanlah orang yang buta aksara dan telah memakan bangku sekolah sampai perguruan tinggi, bahkan. Namun, tetap saja pada akhirnya lelehan air mata yang mengakhiri lamunan yang berkecamuk. [bukan sok melancois dan tanpa pencitraan T_T]

Apa sebenarnya mimpi yang kubangun? Study aboard atau setidaknya Malang-Surabaya-Jogja-Jakarta. Bukan mahal biaya yang dipermasalahkan di sini, karena yang akan ku lalui adalah jalur beasiswa entah apa bentuknya. Hmmm, bukan hal yang buruk dan harusnya patut dibanggakan untuk sekadar berangan bisa mengenyam pengalaman di tempat yang jauh. Apa yang salah? What's wrong? Nothing. Hanya pandangan orang tua seringkali tidak bisa kita pahami. Tapi, bagaimanapun itu, tiada yang bisa disalahkan atas semua persepsi mereka.

Now!
Mimpi. Itu adalah cerita dulu. Sedikit demi sedikit aku bangkit apalagi kulihat banyak orang hebat yang kutemu di kampung kecil ini. Kampung kecil? Ya, kuanggap duniaku ini adalah kampung yang tak berarti sekadar untuk mencari sebuah keberuntungan. Namun mereka yang hebat, memilih untuk di sini adalah sebuah motivasi untukku. Aku sadar, aku tak perlu berkelana jauh untuk memperjuangkan sesuatu yang besar dan menjadi orang besar. Di kampung kecil ini, ada juga hal besar yang patut diperjuangkan. Ada lagi sebuah kalimat dari sahabat tercintaku yang membuatku semakin bangkit dan tertantang. Katanya, “Pandai dan besar di negeri orang itu sudah biasa. Namun, pandai dan besar di negeri sendiri, sungguh tak bisa diuangkan”.

Blessing in Disguise
Satu tahun yang lalu semua itu terjadi. Kesadaran akan kekecewaan yang terpendam seringkali masih muncul. Tapi, sisi sadarku yang lain tak mampu mengelak bahwa berbagai pelajaran berharga kudapat setahun ini. Di samping orang tua, begitu penting dan berharganya arti diriku sekadar membantu mereka meringankan beban berat yang dipikul, sekadar berbagi cerita susah atau apa. Di samping mereka aku juga lebih terjaga. Ini yang terpenting, belajar dan mempelajari hidup. Mungkin gelimang beasiswa yang menjanjikan ketenteraman belajar dengan full-facilitation membuatku buta. Baik memang, tapi terkadang kebaikan bisa melahirkan sebuah kisah tak diharapkan. Sebagaimana kita tahu sendiri tragedi anak rantau.

God Plan

Satu hal yang ku yakini, bahwa Tuhan punya cara sendiri, yang bahkan kita tidak akan pernah menyangkanya, perihal sebuah kejutan untuk sekadar membuat kita bahagia. Barangkali di suatu tempat dan di suatu waktu di masa depan ada secercah keindahan tak terkira tentang kebaikan dunia yang kutata sedemikian indah selama ini, terwujud dengan begitu apik oleh arsitektur rancangan Tuhan. :) "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al Baqarah : 216) [copas dari blognya Mbak Muna ^^]


Taked from Google Image
So, sekarang aku tak lagi membangun mimpi. Lagipula, mimpi adalah bunga tidur, bukan? Tak peduli mau jadi apa aku kelak, tak ada mimpi dan tak ada target. Yang terpenting bagiku adalah melakukan usaha yang terbaik segiat yang kubisa. Aku terus gigih seolah buta oleh kesilauan cahaya bahagia yang menantiku di depan sana. Walau aku hanya bisa duduk di kampung kecil ini, tapi aku akan buktikan bahwa aku bisa lebih dari mereka yang ada di jauh sana. Aku juga yakin bahwa Allah akan mempersiapkan hadiah terindah pada orang yang sabar dan tetap gigih. :D

Dream
Mungkin aku juga salah bilamana mengatakan bahwa aku tak lagi akan bermimpi, namun terus be and do the best, karena pada dasarnya tujuannya adalah kebahagiaan yang tiada tersangka. Bukankah bahagia juga sebuah mimpi. Maka, bermimpi bukanlah suatu kesalahan, tapi ia adalah doa dan benih yang hendak kita rawat. Keep your dream and do the best for get it! Hihihi ^^v

Taked from Google Image
Tulisan ini diikutsertakan dalam momtraveler’s first Giveaway “Blessing in Disguise:)


Poem#3 :: WARNA-WARNA YANG SAMA

Yang nulis Unknown di 8/06/2013 11:31:00 AM 0 komentar
Edited by me

SABDA HATI KECIL 01 MARET 2013

Monoton
Walau ada banyak warna di sini
Menghiasi setiap jengkal dinding hati
Berbagai tema warna

Tapi monoton
Semua seperti begini-begini saja. Warna yang berbeda-beda ini tetap begitu-begitu jua

Ini-ini saja yang diriwayatkan
Itu-itu saja yang diceramahkan
Begini-begini saja yang dituliskan
Begitu-begitu saja yang diperdengarkan
Selalu seperti biasa yang terjadi
Monoton, padahal banyak warna
Tapi banyak itu juga monoton

Adakah warna yang benar-benar mewarnai
Bukan sekedar warna tak bernyawa
Adakah ia?
Di mana gerangan.

Ponorogo, 01032013
Ditulis pada malam berlantun instrumen indah "Cinta Sejati-BCL".

Senin, 29 Juli 2013

Story#4 :: Not About The Ending (Happy Ending) (Super Short Story)

Yang nulis Unknown di 7/29/2013 07:35:00 AM 0 komentar

"Happy ending? Omong kosong!” celetuk Nay. Baginya di dunia ini tak ada yang namanya sebuah akhir yang bahagia. Itu hanya sebuah omong kosong belaka. Cerita-cerita dengan akhir bahagia hanyalah sebuah cerita yang belum usai, terpotong di momen bahagia, berakhir di sana dan tak diketahui bagaimana akhirnya. Tentu akhir sebuah kisah adalah perpisahan. Kisah dua orang tak akan bisa berhenti ceritanya sebelum keduanya berpisah, bukan. Begitupun kisah-kisah yang lain. Dan apakah perpisahan ini bisa dikatakan akhir yang bahagia?

Dee tersenyum sambil menoleh pada mimik judes Nay. “Ini bukan tentang bagaimana akhirnya, Sayang. Ini tentang perjalanan hati. Bukan akhir bahagia yang diinginkan di sini. Tapi sebuah rasa yang menyenangkan, yang menenteramkan. Tentu semua cerita berakhir pada perpisahan. Tapi bukan itu yang dipermasalahkan dalam cinta. Hanya sebuah kedamaian yang bahkan bisa dibawa kala perpisahan itu benar-benar mengakhiri kisahnya.”

Nay mengerutkan kening. Benar juga kata Dee, tapi persepsinya juga tidak ada yang salah. Mungkin happy ending memang tidak benar-benar ada. Tapi, kedamaian itu, rasa yang membalut sepanjang perjalanan menuju akhir, itulah yang terpenting. Nay menghirup napas dalam. Membiarkan angin membelai hatinya hingga terasa nyaman.
Diikutkan dalam Giveaway di http://www.riawanielyta.com/2013/06/quiz-giveaway-berhadiah-novel.html tertanggal 6 Juni 2013.

Rabu, 24 Juli 2013

Poem#2 :: DUNIA DI MATA MURID

Yang nulis Unknown di 7/24/2013 08:02:00 AM 0 komentar
Tanah
Mengajarkan kesabaran memikul beban kehidupan
Ia tahu, tanpanya semua menjadi tumbang
Tak peduli diri t'lah jatuh, sakit pula terinjak

Langit
Mengajarkan kesabaran bertahan
Ia tahu, menyerah pada kejamnya matahari dan musim
Hanya menjadi limbung ia terjun ke dasar

Pohon
Mengajarkan kebaikan berbagi
Ia tahu, ia jantung mereka dan tak ada yang mampu memenuhi kebutuhan sendiri
Tak peduli pada perlakuan yang berduri

Semut
Mengajarkan kesetiaan pada kebersamaan
Ia tahu, hidup tak mampu dijalani seorang
Sapa jabat pada setiap jengkal langkah adalah niscaya

Air
Mengajarkan ketenangan yang menjanjikan
Ia tahu, keserakahan adalah petaka
Hidup biarlah mengalir saja pada salurannya

Dunia
Mengajarkan kedamaian
Di tengah petir badai warna kehidupan

Ponorogo, 12 Maret 2013


Puisi ini dulu kubuat untuk kuikutsertakan dalam buruan yang diselenggarakan oleh Grup Komunitas Pecinta Puisi. Alhasil, aku dapat peringkat dua dan dapat reward pulsa 25.000 secara gratis. [Syek asyeekkk :D] Aku suka banget sama puisi ini karena menurutku inspiring. Walau diksinya kurang ngena dan maknanya mencolok banget di bait-baitnya, tapi menurutku isinya dalem. [bikin sendiri, dipuji sendiri -_-]


Inilah beberapa respon teman-teman terhadap puisi di atas :)


Selasa, 23 Juli 2013

Catatan Harian#1 :: Behind of MAKESTA SMP Ma'arif 1 Ponorogo (Day 1)

Yang nulis Unknown di 7/23/2013 09:28:00 AM 3 komentar

Bismillahirrahmanirrahim....

Pelaksana: Pimpinan Anak Cabang IPNU-IPPNU Kec. Ponorogo
Waktu: Tanggal 16 - 20 Juli 2013
Tempat: SMP Ma'arif 1 Ponorogo
Partisipan: Peserta Didik Kelas IX SMP Ma'arif 1 Ponorogo Tahun Ajaran 2013/2014

Day One [16 Juli 2013] :: Technical Meeting

What happened with our MAKESTA? Nothing. Cuman lucu aja. :D

MAKESTA, Masa Kesetiaan Anggota, adalah satu tahap paling bawah dari bentuk pelatihan dan pengkaderan yang ada di kalangan organisasi IPNU-IPPNU. Sebagaimana layaknya pengkaderan yang lain [baca: MOS, orientasi pengenalan sekolah, dll.] sebelum MAKESTA dilaksanakan, ada yang namanya technical meeting, yang bertujuan untuk pengenalan singkat dan penjabaran gambaran kegiatan.

Mmm..., aku bukan mau mengulas soal tetek bengek MAKESTA, tapi sekadar cerita tentang ada apa di balik MAKESTA yang aku handel ini [cuma jadi salah satunya aja :3]. Ini adalah kali pertama aku mengurus even gede yang sebagaimana telah disebut, MAKESTA. Sebelum hari ini tiba, jauh-jauh hari kami [panitia] telah membicarakan dengan panjang x lebar = luas [emang persegi panjang -_-] perihal even ini. Maklum, keanggotaan kami baru terbentuk setelah vakum satu generasi. Sebagai orang baru dengan program kerja pertama yang nggak kecil juga, maklum dong kalau kami mau give the best. :) *tepoktangan*plokplokplok

Mungkin karena baru juga dan belum punya banyak pengalaman, banyak banget kejadian miscomunication antar panitia [maklum aja ya. Yang udah purna juga pada sering gitu :P].

Jutek
Kesan pertama ketika bertemu dengan para partisipan saat technical meeting adalah sifat jutek dan bandel [minta ampun *ampuuunnn*]. Nggak tahu kenapa, tapi aku makluuummm banget [lumer :3]. Yah, mau dibilang alay bin lebay, nggak juga kali ya. Kesannya itu kayak aku [as panitia at all] ngawinin bokapnya dan ada kilatan di matanya kayak bilang, "Jangan harap lho bisa jadi enyak gue." Uuuhhh.... [tanpa pencitraan*mungkin sedikit ^^v] So, yang terjadi adalah kurang diperhatiin sama cewek-ceweknya. Seolah, "Lu selingkuhin pacar gue. I hate you." Dan, cowok-cowoknya bener perhatian, tapi bikin rusuh iya. Pakek bilang, "Abis kamu mbak pulang dari sini." [saking ramenya nggak bisa dihendel]

Mungkin kronologi sebenarnya adalah seperti ini:
Sebagaimana kebanyakan pengkaderan dan orientasi yang dikenal di Indonesia, penuh dengan warna peloncoan partisipan-partisipannya. Sebagai langkah kuda-kuda, mereka pasang bendera, "Let's fight! You're my enemy" [bener nggak ya english-nya*masa bodo]

Hal terburuk yang terjadi saat acara TM ini adalah bahwa di antara lima panitia yang hadir [aku, Sibe, Takek, Ely, Mbak Nishak], akulah yang handing room. Ngenes nggak sih [lebay -_-]. Karenanya, aku bawel aja waktu isi suara [nyrocooosss terus]. Aku bilang bahwa berhubung puasa, kita akan asyik-asyikan aja ngejalanin nih MAKESTA [ngeredam suasana*lah]. Dan alhasil, not bad. :)

Narsis
Ini nih salah satu miscomunicating yang terjadi di lapangan. TM waktu itu juga diisi dengan pembacaan tata tertib MAKESTA dan survival yang harus di bawa. One of them, adalah membuat ID card dari kertas karton dengan ditempeli foto paling narsis. Daaannn, ketika itu dibacakan, serentak pada syok [panitianya juga --"]. Ini nih gara-gara tatibnya lupa dirapatkan [buruk banget :(]. Aku sih nggak berpikir jauh-jauh dengan apa yang disampaikan Ely ini dan menganggapnya maklum. Nasi telah menjadi bubur. Semua sudah terlanjur keluar, kalau mau diralat banyak-banyak ntar ketahuan panitianya nggak persiapan lagi.

Yang buruk dari insiden ini adalah efeknya total banget di kemudian hari dan oh Tuhan, ntar aja ceritanya. Hiks :'(

Begitulah sedikit cerita di hari TM. Setelah pembacaan tatib selesai, muncullah generasi Bani Israel yang banyak tanya. "Kak, rok itemnya mexi boleh?" "Ada bordirnya gpp ya, Kak?" "Kak, motto hidup itu apaan sih?" "Kak, nggak pakek sabuk napa, Kak?" [eh, pakek nawar segala] "Kak, nggak punya baju putih lengan panjang." [Hellooo, it's not my bussiness]. Oh dear,.... Dan, akhirnya acara ini diakhiri dengan kebawelan para partisipan yang ngrengek minta cepet pulang [ampuuunnn].

Sampai jumpa di cerita Day Two! ^^

Story#3 :: NOSTALGIA BUKU HARIAN LAMA (Short Story)

Yang nulis Unknown di 7/23/2013 12:39:00 AM 0 komentar
Bismillah, happy reading ^^

Nay asal membuka buku harian lamanya begitu saja. Entah berapa halaman yang tersibak, namun di halaman yang terbuka itu ia menemukan barisan kata-kata lama.

Mimpi ini begitu lucu menurutku
Akankah sama lucunya bila nyata terjadi?

Nay mengingat persis apa maksud bait-bait itu. Sebuah mimpi yang aneh dan lucu menurutnya. Ia masih ingat ketika tiga hari tiga malam ia terus tersenyum-senyum dalam dunia dan lamunannya sendiri kala mengingatnya. Dalam sebuah taman kecil yang sepi, tiba-tiba sesosok yang ia kagumi bertahun-tahun kala itu datang dan berkata, “Nay, kamu dengar orang-orang membicarakan tentang kita?” Memang benar Nay tahu gosip-gosip burung yang terbang sembarangan di kampus. Apa maksud ia datang dan tiba-tiba menanyakan hal ini? Nay siap-siap menata hati kalau-kalau.... “Tapi, Nay,” lanjutnya, “Aku sebenarnya tidak ada perasaan apapun padamu. Memang kita dekat, tapi aku hanya menganggapmu teman.”

Kecewa? Tidak menurutnya. Walaupun sudah ada harap. Pengakuannya begitu lucu menurut Nay. Ia ingat betul dalam mimpipun ia tertawa terpingkal-pingkal dan sempat menjawab, “Hey! Kenapa kamu begitu serius menanggapi hal bodoh ini. Memang kamu pikir aku suka kamu begitu?” Walaupun pada nyatanya Nay memang menaruh hati padanya, tapi tak sekalipun ia menunjukkan ketertarikannya. Bagaimana mungkin kejadian konyol ini terjadi. Tapi itu hanyalah sebuah mimpi, pikirnya.

Berbicara sifat, Nay seolah diingatkan pada sesuatu. Dia menyibak-nyibak kembali buku hariannya, mencari-cari entah apa. Dalam satu halaman yang banyak tempat kosong, ia temu,

Kata orang kamu pendiam, menurutku kamu itu rewel
Kata orang kamu cuek, menurutku kamu itu asyik
Kata orang kamu alergi cewek, menurutku kamu srobot aja
Kukira kamu itu narsis, ternyata enggak juga
Kukira kamu itu fanatik, ternyata slow saja
Kata orang lagi, kamu itu orangnya pintar, wibawa, santun,
Membuatku semakin kagum.

Hari itu ketika ia duduk bersebelahan dengan Lucy, teman sekelas si dia, tiba-tiba Lucy membicarakannya.
“Dia itu kalau di kelas enggak mau bicara sama orang yang jauh dari tempat duduknya, maunya cuma sama teman sebelahnya. Teriak-teriak juga enggak pernah. Anak-anak pada sungkan gitu sama dia. Soalnya selain pinter, dia juga wibawa dan santun banget. Tapi dia sebenarnya gampang akrab sama anak-anak. Aku saja tadi duduk di sebelahnya juga bisa ngobrol banyak sama dia.”

Nay tertegun kala itu. Dia yang dikenal Nay bawel ternyata sifatnya luhur juga. Maklum kala itu Nay baru mengenalnya lewat pesan-pesan singkat alias sms. Nay begitu saja percaya pada Lucy. Ia tahu bahwa Lucy sangat memahami sosoknya luar dan dalam karena Lucy menaruh hati padanya juga. Oleh sebab inilah, Nay tetap pada sikap diamnya. Bagaimanapun gosip yang beredar, bagaimanapun Lucy menanyakan perihal gosip-gosip itu, Nay tetap menjawab, “Bahkan aku tidak kenal dia, Lucy. Bagaimana aku bisa tahu tentang gosip itu”.

Lucy. Sahabat semenjak ia SD. Mengingatnya mengingatkan Nay pada goresan pahit. Bersamaan dengan kilat biru rintik air dari langit kala itu, Lucy datang kepada Nay dengan air mata yang tak kalah derasnya. “Nay, aku sakit....” Nay menduga pasti ini ada kaitannya dengan si dia.

“Aku sudah memberanikan diri untuk menyatakan perasaanku,” benar dugaan Nay. “Tapi dia bilang, dia sudah suka seseorang.”

“Oh, siapa?” batin Nay. Rasa sakit Lucy bagaikan virus yang langsung menginfeksi hati Nay ketika dia berkata, “Dia sudah suka seseorang”.

“Aku pikir dia punya perasaan yang sama denganku. Dia begitu akrab padaku akhir-akhir ini.” Dia mengusap urai deras linangan air matanya. “Dia membuatku banyak berharap.”

Nay terus diam sesekali menarik napas untuk melegakan gejolak di dadanya dan menahan agar air tak menggenangi matanya.

“Aku minta satu hal padamu, Nay. Bagaimanapun yang terjadi kamu tidak boleh suka padanya. Rasa sakitnya begitu menyayat.” Nay sebenarnya bingung mengapa Lucy bicara begitu. Apa Lucy tahu bahwa ia juga menyukainya atau bagaimana? Tapi kata yang mampu keluar hanya, “Tentu.” Ia takut air matanya akan meleleh ketika ia banyak berucap. Namun sedetik kemudian satu kata itu begitu ia sesali. Kini ia telah terikat janji suci dengan sahabatnya yang menjadikannya tak mampu menyentuh si dia. Sesal, sakit, benci berkecamuk tak karuan mengiringi linangan biru di pipinya di malam setelah kejadian itu.

Empat tahun kau menyusun bata-bata membangun harap
Kukira itu sangat kokoh hingga tak mungkin runtuh
Nyatanya sekarang semua rata dengan tanah
Ketika kau ambil penyangganya

Goresan terakhir buku hariannya beriring urai air mata saat itu dan kini. Rasa sakitnya ternyata masih sama seperti dulu, bahkan kini berbumbu rindu. Sekarang di mana dia? Entah.


Flash fiction, lagi. :D Cerita ini awalnya kubuat untuk diikutsertakan dalam even dengan tema "Secret Admirer" yang diselenggarakan oleh Penerbit Harfeey, salah satu penerbitan indie yang namanya sudah lumayan beken [lumayan? Beken banget kali ya. Hehehe :P]. Tapi, dasar aku sukanya yang mepet-mepet, maka aku nggak sempet ngirim ke email-nya. Karena, memang dulu belum ada akses internet di rumahku [emang sekarang ada? Modem aja nebeng kali*ups*plak :3]. Padahal, di kemudian hari ternyata kutahu bahwa semua naskah yang masuk dibukukan semua lho*wew. Banyak juga ding yang ikutan, sampai ratusan pokoknya. >.<

Nah, inspirasi dari kisah ini adalah ... mmm, kurang tahu juga sih. *heh?* Yah, waktu itu aku memang lagi genjot-genjotnya kagum sama seseorang. Tapi, dasar akunya kayak gini sifatnya, sekarang udah ilang kagumnya. Hehehe ^^v. Sebagian kisah, sifat, dan karakter aku ambil dari kisahku sendiri, namun tetap penuh dengan manipulasi sehingga hampir tidak bisa dikatakan bahwa cerita ini terinspirasi dari kisahku. *oh oh oh*

Ya, karena kelamaan nimbun di file, mending aku post aja di sini. Siapa tahu ada yang baca dan ada yang suka. :) *ngarep*

Senin, 22 Juli 2013

Story#2 :: Onthel Pak Bodong (Super Short Story)

Yang nulis Unknown di 7/22/2013 11:19:00 PM 0 komentar
Bismillah, happy reading ^^

Thiiinnn…, suara klakson menghardik Pak Bodong. Sebentar ia berhenti mengayuh onthel-nya.

“Malah mandek,” umpat Wiwik di balik stirnya. “Pak Bodong! Kuping Bapak bodong juga kayak udel Bapak, ya? Sepeda Bapak itu ngalangin jalan!”

Pak Bodong berpaling sekejap dan mengayuh onthel-nya lagi. Ngik, ngek, ngik, ngek…. Besi-besi tua yang terdengar sangat terbebani, memecah sunyi petang yang memerah.

Thiiinnn…, klakson menyeru, lagi.

“Woi, Pak Bodong!” Teriakan yang percuma. 

Krecek krecek… bug, onthel Pak Bodong limbung tersenggol moncong mobil Wiwik.

“Mas Wiwik… bojo-ku ini lagi hamil,” keluh Pak Bodong. Wiwik terheran. Sebelah alisnya nyungging ke atas. Bojo mana maksudnya? Tidak ada orang selain mereka. Pak Bodong segera mengangkat onthel-nya, menunggu sebentar di tunggangannya, dan mengayuhnya kembali bersamaan dengan suara ngik, ngek, ngik, ngek. Dilihat Wiwik tetes-tetes darah segar mengalir dari boncengan belakang onthel Pak Bodong, menyirami sepanjang jalanan yang ia lalui.

Ini adalah super flash fiction kurang dari 1000 cws yang aku ikut sertakan dalam even giveaway yang diselenggarakan oleh Bang Guntur Alam di facebook tertanggal 16 Maret 2013 pukul 23:45 [malam bener]. Sebagai grand opening [kayak market aja :)] novelnya yang baru rilis, ia meminta untuk membuat flash fiction maksimal 1000 cws (carakter with space) dengan kata kunci dari salah satu gambar cover dan dipilih 2 orang pemenang. Satu dengan cerita terkeren dan satunya lagi dari jempol dan komentar terbanyak. Alhamdulillah, aku menjadi salah satu pemenangnya dengan kategori cerita paling menarik. :D Walau katanya EyD-ku hancur, tapi kata crew editor Gramedia (penerbit novel tersebut) bilang ceritaku rada nyastra. Hehehe [nyengir kuda]. Ini nih novel yang aku maksud:


Sebenarnya nggak nyangka bener kalau menang. Aku baca karya temen-temen yang lain keren abis. Dan, suer! Ini novel kerennya gila punya. Seneeeng..., banget rasanya bisa dapat gratisannya. Apalagi bonus tanda tangan Bang Guntur. Xixixix. Kapan-kapan deh aku buat review-nya [telat bangeeettt*biarin :P]

Oh iya, nggak lengkap rasanya kalau nggak kasih jejak kemenanganku. Ini dokumenter giveaway-nya :D

Story#1 :: “NANTI” DI TAPAL BATAS (Short Story)

Yang nulis Unknown di 7/22/2013 12:24:00 PM 0 komentar
Bismillah.... Happy reading ^^

Seperti biasa, malam selalu melantunkan irama sunyinya. Suara jangkrik, kodok, burung hantu, semilir angin, bahkan dengkuran para pria bertubuh besar dengan baju lorengnya. Aku telah terbiasa mendengarnya di sini. Mereka adalah teman-teman malamku ketika aku menghabiskan kegelapan dengan duduk di tepian tapal batas Atambua dan Timor Leste, setiap hari. Sekedar memandang jauh pada kaki langit Timor Leste, aku menunggu.

Seorang pria besar berbaju loreng yang semenjak tadi berjaga pada gilirannya, mendatangiku dan menyodorkan sehelai selimut bercorak garis-garis. Mungkin ia iba melihat anak sepuluh tahun sepertiku menggigil kedinginan. Ia tidak tahu saja bahwa dingin telah menjadi selimut kesayanganku.

“Kau tidak lelah menunggu, Nak?” tanyanya sembari duduk di sampingku. Semua orang di sini sudah tahu dan terbiasa akan rutinitas malamku yang selalu duduk di tepian tapal batas ini. Bukan sekedar duduk, tapi aku sedang menunggu.

Aku hanya menggelengkan kepala. Tak tahu apa yang bisa kukatakan untuk menjawab pertanyaan itu. Sejenak, angin mengajak kami berdua dalam kesunyian tanpa suara. Sedang anganku pun melayang pada peristiwa beberapa tahun yang lalu. Entah dua tahun, tiga tahun, atau mungkin lima tahun. Ah, aku sudah lupa umur berapa aku saat itu. Saat Ibu pergi.

Yang kuingat hanyalah suara ayam berkokok disambut gema adzan yang berkumandang di pagi buta. Tak seperti hari biasa, hari itu entah mengapa aku bisa bangun sepagi itu. Dalam pandangan pertama saat mataku terbuka, yang kulihat adalah Ibu yang sibuk mondar-mandir dengan seabrek baju-bajunya.

“Ibu, kenapa menata baju?” tanyaku polos.

“Ibu mau mengunjungi kakekmu,” jawabnya dengan seutas sungging yang menawan. Aku sangat suka senyuman itu, ditambah ada hias lesung di pipinya.

“Aku ikut kan, Bu?” tanyaku memastikan. Tak tahu mengapa, ada rasa takut kalau-kalau Ibu meninggalkanku.

“Nanti kan kamu sekolah. Jadi, tidak bisa ikut Ibu. Nanti malam Ibu juga sudah pulang kok.”

“Kan sekolahnya bisa ijin, Bu.”

“Tidak boleh. Lagian kamu juga belum mempersiapkan baju dan bekal. Kalau seandainya kamu bangun lebih awal, Ibu pasti mengajakmu. Besok saja bangun yang pagi, ya?”

Tak ada yang bisa kuperbuat. Aku terus merengek dan Ibu hanya diam. Sesekali kudapati ia mengelap tepi matanya. Apakah menangis? Tapi tak ada yang meleleh di pipinya.

“Aku antar Ibu, ya?” tanyaku. Entah, rasanya berat melepas Ibu walau hanya sampai nanti malam. Padahal sudah biasa Ibu meninggalkanku bersama bibiku untuk berburuh beberapa hari.

Ibu mengangguk. Aku pun dituntunnya menapaki jalanan sempit penuh bebatuan. Ibu berjalan terburu-buru sekali hingga kaki kecilku sering tersandung. Sampailah kami pada tapal batas Atambua-Timor Leste.

“Nak, Ibu pesan, ya. Jangan kamu lewati tapal batas ini! Anak kecil tidak boleh lewat. Nanti bisa ditangkap sama bapak-bapak itu,” perintah Ibu sambil menunjuk para pria kekar berbaju loreng yang pada petang itu semua masih dalam lelapnya. Aku hanya bisa mengangguk.

“Nak, mau kopi?” Oh, aku melamun lagi. Suara besar si pria kekar yang sedari tadi di sampingku menyadarkanku. Menyadarkanku bahwa kata “nanti” bukanlah waktu yang sebentar. Mungkin Ibu memang benar-benar meninggalkanku, pikirku terkadang. Tapi aku terus menunggu di tapal batas ini kalau-kalau malam ini Ibu pulang. Sebentar kudengar kokok ayam dan aku pun pergi meninggalkan pria itu sendiri bersama selimutnya yang tergelepak dan secangkir kopi yang mungkin kini telah dingin.

Malam ini aku bersikukuh untuk menerjang tapal batas itu. Pengalamanku berhuni di tepian tapal batas membuatku tahu kapan waktu yang tepat agar para pria kekar berbaju loreng itu tidak menangkapku. Benar saja, di tengah malam semua pria yang biasa berjaga tertidur. Aku pun langsung melompat dan berlari pada semak-semak. Kini aku tidak lagi di Atambua, melainkan Timor Leste. 

Daerah ini sungguh tragis di mataku. Di sini tidak ada air, makanan, listrik, dan jalan pun masih berupa tanah tandus yang retak. Walau di desaku juga tidak jauh berbeda, setidaknya di sana kami bisa sekolah di kelas yang lumayan bagus. Di sini aku lihat orang-orang sebayaku berkumpul di sebuah gubug reyot yang terbuka. Mereka sedang sekolah, kuperhatikan. Buku-buku mereka lusuh seperti diri mereka yang kotor dan kumal. Kulihat pula anak-anak kecil, tak tahu berapa kira-kira umurnya, tertatih-tatih membawa ember penuh dengan air dari tempat yang jauh. Sejauh aku memandang, aku melihat mereka datang. Anak-anak itu bahkan lebih kurus daripada embernya dan tak lebih tinggi daripada aku. Tangannya menegang menyembulkan tulang-tulang yang menonjol ketika mereka mengangkat beban air itu. Mungkin karena begitu kurus dan beban itu terlalu berat. 

Perutku berbunyi sedari tadi, namun aku hanya bisa memeganginya. Rasanya sangat lapar dan haus. Apalagi matahari begitu teriknya berpijar. Kepalaku kian pusing saja kurasakan. Dan tiba-tiba matahari menghilang terlahap gelap. Begitu pun cahayanya. 

“Tidak salah lagi, dia cucuku. Oh Tuhan, bagaimana dia bisa sampai sini?” Aku mendengar bisik-bisik yang bagiku seperti dengungan lebah. Kusadari mataku tertutup, tapi begitu berat ketika aku berusaha membukanya. 

“Sepertinya dia sudah siuman,” kata seorang wanita yang kudengar dari sisi kanan telingaku. Aku berusaha membuka mata dan alangkah terkejutnya aku melihat banyak sekali orang berkerumun di sekitarku. Aku sudah tak lagi di jalanan tandus yang kulewati tadi. Di sini lebih sejuk dan redup, juga beratap. 

“Minum dulu, Cu!” Seorang pria tua berperawakan besar menopang tubuhku hingga aku terduduk. Aku seperti tak asing dengan wajah itu. Tapi siapa, aku juga tak tahu. Kepalaku masih terlalu pusing untuk mengingat-ingat. Seteguk air putih itu bagaikan arak segar di tenggorokanku. Air mataku pun meleleh. Badanku sakit semua, sungguh rasanya sangat berat. Pria tua itu menyeka air mataku dengan ujung lengan bajunya. 

“Tidurlah lagi, Cu. Kamu pasti sangat lelah,” katanya lagi, namun aku menggeleng. Aku hendak beranjak untuk bangkit kembali. Aku tidak ingin menyia-nyiakan waktu sedikit saja untuk mencari Ibu. Aku takut Ibu akan pergi lagi jika aku terlambat. Aku sudah begitu ingin bertemu Ibu. Kalau aku terlambat mencari, aku takut tidak bisa bertemu Ibu seperti aku tidak bisa ikut Ibu karena aku terlambat bangun tidur. 

Belum lekas tubuh ini bangkit, seorang nenek yang sedari tadi duduk di sebelah kananku berkata, “Cu, kamu masih ingat kami? Aku nenekmu.” 

“Nenek?” batinku terkejut. Memang wajah itu seperti tak asing lagi di otakku yang telah usang. “Kalau benar dia nenekku, pria tua ini pastilah kakekku. Lalu, di mana ibuku?” Aku sibuk dalam pikiranku sendiri, sebelum kemudian aku merintih, “Di mana ibuku?” 

“Ibu?” kata Nenek kaget. Wajahnya langsung memerah dan kulihat matanya berkubang air. Hatiku berdegup kencang sekali, hampir-hampir aku tak bisa bernapas. Kenapa mereka begitu kaget, menurutku itu hal yang begitu aneh. Bukankah Ibu pergi untuk menjenguk Kakek? 

“Nanti ibumu akan datang sebentar lagi,” kata Kakek kemudian. Pandangan Kakek berkutat dengan mata Nenek, seolah mereka sedang berbicara dengan mata mereka. Tak lama kemudian, datang seorang pria yang tinggi dengan berbalut baju kotor berdehem, membuat semua menoleh kepadanya. 

“Ada apa ramai-ramai di sini?” Pertanyaan yang sangat wajar ditanyakannya yang pasti heran melihat banyak sekali orang di rumah ini. Pria itu kemudian memandangku dan raut herannya semakin tergambar pada tatapannya yang terlihat pilu. 

“Anakmu,” kata Kakek singkat. Aku tidak yakin apa maksudnya. Aku anak pria inikah? Sejak lahir aku memang tidak tahu siapa ayahku. Tiba-tiba pria itu memelukku erat. Dia menangis begitu sendu di pundakku hingga membuatku merinding. Aku yang polos hanya ingin tahu di mana ibuku dan bibir kecilku berdalih, “Di mana Ibu?” 

“Ibumu….” Kata-kata pria yang mungkin ayahku itu tergantung oleh angin. 

“Ibu meninggalkah?” Tak tahu mengapa bibirku berucap seperti itu. Semua orang begitu sulit mengungkapkan di mana Ibu, membuatku berani berpikir demikian. Sontak semua menangis histeris. Hatiku berdesir kemudian berdetak begitu keras. Aku nyaris tak bisa bernapas. Ternyata kata “nanti” bukan lagi lama, tapi selamanya. 

“Ini salah Ayah. Andaikan Ayah memilih untuk tetap tinggal di Atambua, semua tidak akan seperti ini. Kita tidak akan berpisah dan ibumu akan lebih terjamin di sana.” Ayah, pengganti sosok Ibu. Aku memeluknya. Erat sekali. Ternyata Ibu pergi untuk bertemu Ayah. Bagiku tak ada yang harus disesalkan di tempat yang tercerai seperti ini. Semua kejadian adalah pahit dan aku tidak mau menambah pahit lebih terasa. Aku hanya ingin menyempilkan sedikit manis dengan sesungging senyum. 

Malam-malam masih kulalui di tepian tapal batas Atambua-Timor Leste. Aku mungkin telah mampu melepas Ibu pergi untuk pulang “nanti”. Tapi, tapal batas inilah singgahan terakhir tatapanku pada Ibu. Tapal batas telah menjadi separuh kehidupanku, tak tahu sampai kapan. Sesekali aku juga mencuri waktu untuk menerjang tapal batas ini ketika pria-pria kekar berbaju loreng itu lengah. Sekedar menjenguk famili di negeri tetangga. Mengelupaskan kerinduan pada sosok ibu baruku, Ayah.

Flash fiction ini adalah cerita yang dulunya aku ikut sertakan dalam even "Kisah dari Perbatasan" yang diselenggarakan oleh Hida Althafunnisa di facebook tertanggal 23 Januari-7 Februari 2013. Awalnya mau dibukukan semua, tetapi kata Kak Hida pesertanya terlampau sedikit dan tidak bisa dibukukan. Pun aku menempati urutan ketiga dari belasan karya yang masuk, sayangnya reward hanya diberikan pada dua pemenang terbaik. :( [manyun] Tapi, aku sudah bangga kok bisa dapat peringkat kedua. :D

Mulanya aku tak tahu menahu soal Atambua. Namun, menemukan even menulis yang menantang ini [menurutku aja sih] membuatku pengen nyoba. Aku coba cari-cari data di internet dan juga kisah-kisah tragis rakyat perbatasan. Huhuhu T_T memang yang adil itu hanya di sisi Allah saja. Pantes aja banyak kontroversi perihal aksi melepaskan diri dari wilayah batas. Mmm, aku berharap pemerintah segera membuka matanya, bahwa banyak pe-er di Indonesia, terutama perihal kesejahteraan yang diharapkan bisa merata.

May God give bright spots [bener nggak sih english-nya? haghaghag :D]

Selasa, 28 Mei 2013

Poem#1 :: Petuah Kecil pada Sepahat Luka

Yang nulis Unknown di 5/28/2013 11:45:00 PM 0 komentar
Pada sabda-sabda yang mengguntur
Bisik-bisik yang memaku dalam
Belai-belai lembut si mata parut
Bahkan cubit kecil sang bara
Padanya, bukan untuk diperlakukan sama

Sesaat hati terbajak pilu-pilunya
Bukan dsah petir yang harusnya bertampil
Bukan dendam lebih yang harusnya mampir
Hanya butir mata bolehlah kau derma
Sambil undang bayu-bayu ‘tuk singgah
Biarkan ia menyibak tirai-tirai hidungmu
Bersimpuh hingga bilik-bilik parumu

Kala itu, relakan batin merentangkan tangannya
Sampai terpeluk sabit di antara dua lesung
Dalam dekapnya

: Bersabar
by: Mazaya Fikrotil Aimmah or Ma^^

Bismillahirrahmanirrahim....

Puisi ini pernah aku kirimkan ke MATA HATI, sebuah fanpage book di facebook, tertanggal 4 Maret 2013 pukul 16.37. Sayang, karena penilaiannya berdasarkan jumlah like, jadinya aku kalah (Waktu itu hanya dapat 19 likes). :( Waktu itu disyaratkan puisi berupa puisi inspiratif untuk mendapatkan buku "Mata Hati". Setelah meluncur ke fanpage-nya dan nangkring di sana, akhirnya tak ada hasil kecuali beberapa pujian kecil dari seorang teman yang membuatku sedikit bangga dan berbesar hati :D

Satu yang terkenang dari komentar-komentar yang ada adalah sebuah cuplikan dari teman SMA-ku, Didin Putra Mahardi. Tak tahu kenapa dia malah berkomentar seperti ini:
Di bawah komentarnya yang pertama itu, dia komentar lagi, "Maju terus Mbak Mazaya Eaw Azza (akun fb-ku)." -_- Rada kaget-kaget lucu ngebacanya. Tapi ini cuplikan yang indah, menurutku :D Bener juga nih komentar. Menjadi seorang penyair seolah tak punya salah. Mau caci maki atau pun pujian bebas tertuang dalam syair-syair tanpa mampu dituntut. Tapi bagiku bersyair adalah bermain yang unik. Mengotak-atik kata seperti bermain lego. Asyik dan menantang. Hehehe ^^

Eh, ngelantur. Back to topic. Yang ingin kusampaikan pada puisi ini mungkin sudah bisa terbaca dengan jelas. Aku memang nggak terlalu mahir berdiksi ria. -_- Intinya kita haruslah bersabar atas segala sikap yang kita rasa kurang menyenangkan. Air tuba tidaklah harus dibalas dengan air tuba pula. Benarkan? :) Biarlah kesabaran menyelinap bagai angin yang berselip di sela-sela anyaman bambu. :)

Salam karya ^^

Kamis, 02 Mei 2013

Book#2 :: Let's Hunting Giveaway with Ma^^

Yang nulis Unknown di 5/02/2013 04:34:00 AM 1 komentar
Bismillahirrahmanirrahim....

Hai, guys! I tried some giveaway hosted by blogger aboard. Well, I just try it who knows I can win :D Maybe you are interested? There are two blogs that I follow:

First, giveaway hosted by Bookish. Giveaway on Bookish very very much. :D To join, click the image below! :)


Second, giveaway held by Elfswood. So the book giveaway here is equally cool .... O.O To join, click the image below! :)

Happy hunting, guys! :D Ganbatte!
 

Griyo Ma Ziyya Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea